RESENSI & KRITIK CERPEN (Semangkuk Perpisahan di Meja Makan)
NAMA = MINTON FEBRIANSYAH
NIM =
I1B118013
PRODI = SASTRA INDONESIA
KELAS = R001(GANJIL) 03B
TUGAS
KULIAH
RESENSI &
KRITIK SEBUAH CERPEN
RESENSI
a) Identitas Cerpen
Judul Cerpen:
Semangkuk Perpisahan dimeja Makan
Penulis : Miranda Seftiana
Penerbit : Lakon hidup
Waktu Terbit: 17
Maret 2019
b) Pendahuluan
Semangkuk
perpisahan dimeja makan merupakan cerita pendek karya Miranda Seftiana yang
diterbitkan pada 17 Maret 2019. Cerita pendek semangkuk perpisahan dimeja makan
berisi tentang sebuah cerita seorang anak yang diharuskan bisa masak oleh
ibunya.
Unsur intrinsik cerpen"Semangkuk
Perpisahan Dimeja Makan"
1. Tema : Perpisahan
2. Tokoh: Aku (hen)
Ibu
Suami
3. Alur : alur yang terdapat dalam cerpen ini
menggunkan alur campuran (maju dan mundur) karena pada cerpen itu menceritakan
masa lampau dan masa depan
4. Latar
-Latar waktu : pagi hari,siang hari,malam hari
-Latar suasana :
hening atau sunyi,tegang,bagagia
-Latar Tempat :
Dirumah sakit, dirumah ibu, didapur, dimasjid, Kuburan
5. Amanat
Amanat dari cerpen
"Semangkuk Perpisahan dimeja Makan" memang benar jika di zaman serba
modern ini kita mau makanan atau minuman bisa gampang dipesan lewat ponsel,
tapi apa salahnya jika seorang perempuan bisa masak untuk kebutuhannya sendiri.
Dan sesibuk apapun kamu luangkanlah waktumu sebentar untuk ibumu sebelum kamu
merasakan perpisahan untuk selamanya.
Dan hargai sosok
ibu di dalam hidup mu, Apa yang dia perintah harus kamu melaksanakannya dengan
setulus hati
6. Sudut Pandang
Sudut pandang yang
terdapat dalam cerpen "Semangkuk Perpisahan dimeja makan" yaitu
menggunakan sudut pandang orang pertama aku sebagai (hen)
7. Gaya bahasa
Gaya bahasa yang
digunakan dalam cerpen ini yaitu menggunkan gaya bahasa sehari -- hari
c)Isi resensi
Kelebihan :
Cerpennya sangat menarik,kalimatnya juga mudah dipahami,cerpen ini cocok dibaca
oleh semua kalangan karena cerpennya dapat mengispirasi kita.
Kekurangan : latar
waktunya kurang jelas
d) Simpulan
Kesimpulan dari
cerpen yang berjudul "Semangkuk Perpisahan dimeja Makan" berisi
tentang seorang perempuan yang terlalu sibuk hingga tidak punya waktu untuk
belajar masak bersama ibunya.
Dan pada suatu
ketika ia punya waktu sejnak untuk elajar masak dengan ibunya dan tidak dikira
itu adalah waktu terakhirnya bersama ibunya.
e) Rekomendasi atau
Saran
Jika kita ingin
merensi sebuah cerpen kita harus membacanya dan memahami cerpen tersebut.
Kritik
Cerpen ini berisi sebuah percakapan yang di lakukan
seorang anak yang telah lulus menempuh bangku perkuliah dari Fakultas
Kedokteran (Yang tidak disebutkan dari alumni universitas) Dan seorang Ibu yang
mengingkan anaknya bisa memasak hidangan makanan yang cita rasa bisa di rasakan
setiap lidah manusia.
Ketika sianak mengatakan bahwa
ibu umurnya akan panjang saya merasa sedih karena setiap manusia tidak akan
dapat memprediksi umur seseorang
Semangkuk
Perpisahan di Meja Makan
Cerpen Miranda Seftiana
(Kompas, 17 Maret 2019)
Ibu saya bilang perempuan
harus bisa memasak. Setidaknya satu menu sepanjang hidupnya. Saya merasa tidak
setuju, terlebih ketika hidup sudah nyaris-nyaris mirip di surga urusan lapar
dan makan.
Betul. Semasa kecil, saya
sering didongengi ibu. Katanya hidup di surga itu nyaman sekali, tinggal tunjuk
langsung jadi. Mau anggur akan diantar ke hadapan. Mau minum dan makan juga
demikian. Bukankah sekarang zaman juga sudah begini? Haus dan lapar tinggal
buka ponsel. Hanya perlu satu jari untuk membuatnya ada di depan mata. Lalu,
mengapa harus susah payah memasak segala?
Bukan. Bukan saya tidak
pernah memasak sama sekali. Saya pernah merebus mi instan, menggoreng telur,
atau beberapa hal lain untuk bertahan hidup. Lebih-lebih ketika masih mahasiswa
dulu. Tapi ini berbeda. Memasak yang dimaksud ibu saya bukan sekadar bisa,
melainkan memang lihai sebab akan memengaruhi rasa.
Sekali lidah harus langsung
enak terasa sehingga sampai sajian tandas di piring kenangan baiklah yang terbawa.
Maka, demi memenuhi angan-angan punya anak perempuan yang bisa menyajikan
penganan enak itu, ibu kemudian mendesak saya datang ke rumahnya.
“Ambil libur dua hari apa
tidak bisa sama sekali?” desaknya di ujung telepon.
Saya menjepit ponsel di antara
kepala dan bahu sementara sepasang tangan masih berusaha melepaskan sarung
karet berwarna pucat. Saya memang baru keluar dari ruang operasi ketika ibu
menelepon lagi untuk kesekian kali.
“Susah, Ibu. Saya punya
jadwal bedah sesar setidaknya sampai akhir tahun ini. Apalagi menjelang hari
raya, selain musim hujan, juga musim orang melahirkan.”
Saya dapat mendengar embusan
napas ibu di sana. Suaranya terlalu kentara untuk ruang operasi yang hening dan
sepi.
“Apa yang bisa memastikan
nyawa anak manusia sampai dengan baik ke dunia hanya kamu?” sindir Ibu terkesan
tajam.
“Ya tidak,” jawab saya
sembari membuka penutup sampah dan melempar sarung tangan karet itu ke
dalamnya.
“Berapa dokter kandungan di
rumah sakitmu?”
“Tiga.”
“Kalau begitu tukar jaga kan
bisa, kecuali memang kamu tidak menginginkannya!” sentak Ibu sebelum mengakhiri
panggilan.
Saya mengusap wajah dengan
sebelah tangan. Tidak mengerti dengan sikap ibu barusan. Seolah-olah jika saya
tidak bisa memasak, maka akan berbuah kiamat. Padahal, suami saya saja
mengerti. Kami sudah sering memesan makanan yang diinginkan dari berbagai
penyedia layanan katering rumahan.
Dari yang enak sampai yang
sehat. Dari yang dikelola ibu rumah tangga sampai ahli gizi juga ada. Anak-anak
juga tidak jauh berbeda. Pagi terbiasa sarapan roti atau sereal dengan susu.
Siang makan katering sekolah, malam bisa pesan dari aplikasi ponsel. Begitu
mudah hidup sekarang, mengapa harus kembali mengakrabi wajan dan api?
***
Setelah berdiskusi dengan
suami dan membujuk rekan bertukar jaga, di sinilah saya sekarang, rumah ibu
yang rindang. Halaman rumahnya dihiasi hamparan rumput dengan dinding dirambati
bunga putih berdaun lebar. Ibu masih senang selera lama. Tanamannya adalah
bugenvil aneka warna, telinga gajah, dan lidah mertua.
Begitu membuka pintu, ia
segera memeluk dengan erat.
“Saya hanya bisa sampai besok
di sini.”
“Tidak bisa diperpanjang?”
Saya menggeleng. Ibu
mendesah. Andai ibu tahu untuk dua hari ini saja saya harus dinas dari pagi
bertemu pagi. Merapel jadwal hingga membuat lutut rasanya sulit berdiri.
“Ya sudah, kau istirahat
dulu. Esok subuh kita belanja bahan membuat gangan ke pasar.”
***
Lantai dapur mendadak penuh
oleh jagung, ubi kayu, kacang panjang, waluh, aneka bumbu, dan umbut kelapa.
Bahan terakhir ini yang paling mahal di antara lainnya. Mungkin karena demi
mendapatkannya harus menumbangkan sebatang kepala. Merelakan mayang tak
berkembang menjadi puluhan buah.
Sementara ibu mempersiapkan
sayuran, saya dimintanya mengolah bumbu. Namun, belum apa-apa sudah terdengar
suaranya menyela.
“Bukan begitu cara memecah
kemiri, nanti hancur!”
“Memang apa bedanya, Bu? Toh,
sama-sama akan dihaluskan juga.” Saya menyanggah. Ibu menggeleng.
“Kau tahu setiap manusia ini
akhirnya akan mati dan hancur dalam tanah kan?”
Saya mengangguk lantas
berucap, “Lalu, apa hubungannya dengan cara memecah kemiri?”
“Kalau sudah tahu akan mati
dan hancur, apa sembarangan juga perlakuanmu saat mengeluarkan bayi dari perut
ibunya?”
Saya diam. Tanpa menyanggah
saya saksikan ibu memecah kemiri. Gerakannya hati-hati sekali. Persis seperti
menolong bayi memecah gelap rahim menuju bumi. Mula-mula ibu menjepit kemiri
dengan telunjuk dan jempol, lalu ulekan ia ketukkan sehingga terdengar suara
kulit keras yang rekah. Ibu kemudian melebarkan rekahan dengan ujung pisau
hingga terpisah.
Hasilnya sebiji kemiri yang
utuh dan bersih. Saya menerimanya dari tangan ibu dengan takjub. Bagai sekolah
lagi, saya dituntun melalui satu per satu proses memasak sayur ini. Proses
mengolah bumbu menjadi terpenting menurut ibu, terlihat dari caranya
menerangkan satu demi satu.
“Kalau membuat gangan
bersantan, bawang merahnya mesti lebih banyak,” beri tahu Ibu seusai merajang
bawang di atas cobek langsung.
“Kenapa begitu?”
“Entahlah. Nenekmu yang
mengajari Ibu. Mungkin supaya lebih gurih.”
Saya tersenyum kecil. Sebuah
penjelasan asal ada. Berbeda semasa kuliah dulu. Segalanya dituntut sumber,
dikutip dari penelitian mana, juga tahunnya berapa. Tidak terkecuali urusan
bawang-bawangan. Seperti yang pernah tidak sengaja saya baca saat mencari
sumber referensi tentang antibiotik alami. Konon bawang merah dan bawang putih
bisa digunakan sebagai antibiotik, antiperadangan, bahkan melawan kanker.
Itu sebabnya dulu saya sempat
mengira urusan domestik rumah tangga tidak lebih sulit daripada mengeluarkan
diri dengan kepala tegak dari fakultas kedokteran. Tidak lebih sulit dari
berjuang lulus dari semua ujian dengan nilai memuaskan. Karena dulu teman-teman
saya sering berkata ingin nikah saja jika diterpa ujian macam-macam ditambah
tugas beragam. Nyatanya tidak sepenuhnya betul juga. Banyak hal yang saya tak
tahu, termasuk urusan bumbu.
“Haluskanlah,” ujar Ibu
setelah selesai menaruh dan merajang bawang, kunyit, jahe, kencur. lengkuas,
juga lainnya di cobek. “Setelah itu kau tumis bumbunya dengan sedikit minyak
dan api kecil.”
Ibu kemudian beranjak menuju
panci. Ia tampak mengaduk sebentar, mengangkat bergantian potongan ubi kayu,
waluh, jagung. Setelah dipastikan agak lunak, ibu kemudian memasukkan potongan
kacang panjang. Saya sendiri baru saja selesai mengulek bumbu dan bersiap
menumisnya di tungku sebelah kiri ibu.
“Kalau sayurnya sudah lunak.
kau masukkan dulu santan encer.”
Saya memperhatikan instruksi
ibu dengan saksama. Memberi catatan kecil di buku yang saya bawa. Sekarang
tulisan saya lebih parah dari cakar ayam. Ibu banyak memberi instruksi dan
cepat sekali. Tidak akan ada salinan materi dari file presentasi. Semua mesti
disimak dan dicatat bersamaan.
Setelah letupan pertama, ibu
kemudian memasukkan potongan garih, ikan gabus asin yang biasa dijadikan lauk
makan. Disusul bumbu yang telah saya tumis tadi.
“Kau mesti tahu, Hen,
perempuan itu seperti sekotak bumbu dapur. Dia yang menentukan seperti apa rasa
sajian, rasa kehidupan. Manis, asin, asam, pedas. Kalau dia pandai menakar,
setiap rasa akan seimbang, hasilnya gurih dan terkenang,” ujar Ibu sembari
menambahkan gula dan garam.
Aku kemudian dimintanya
mengaduk dan menambahkan santan kental. Perlahan-lahan gangan berubah warna
dari yang kuning pekat menjadi sedikit lebih terang. Menjelang api dimatikan,
ibu menabur rajangan cabai merah besar.
“Ambil mangkuk di rak. Hen.”
***
“Ibu menanak beras usang ya?”
Saya mengernyitkan dahi begitu menyendok nasi. Beras usang itu beras lama.
Nasinya lebih pera.
“Iya,” jawabnya singkat.
“Kok yang usang, Bu? Kita kan
tidak sedang hajatan.”
“Kau tahu mengapa orang
hajatan pantang memakai beras baru?”
“Karena cenderung lebih
lembek. Kalau dimasak jadinya sedikit, bisa-bisa tidak mencukupi jamuan tamu
yang datang.”
“Begitulah hakikat orang yang
lebih tua. Dia mesti seperti beras usang, mencukupi banyak orang. Ibu berharap
kau juga bisa begitu. Kalau Ibu sudah tidak ada, kaulah yang tertua di keluarga
kita, cukupilah siapa-siapa yang perlu dibantu.”
“Bu,” rajuk saya lirih. Sejak
Bapak wafat, percakapan tentang kematian memang membuat saya tak nyaman.
“Bicara apa Ibu ini. Ibu masih sehat, pasti panjang umur.”
Ibu mengulas senyum tipis.
“Nak, manusia itu seperti sayur dalam semangkuk gangan umbut. Usia yang paling
tua serupa ubi kayu, keras, hambar. Usia sepertimu mirip dengan potongan waluh.
Tidak terlalu keras dengan sedikit rasa manis. Paling muda ya tidak ubahnya
umbut. Lembut dan manis. Semua sama akan lunak juga setelah dimasak. tidak
peduli ia yang paling keras atau lembut. Kita pun sama, akan wafat juga. Tidak
peduli sudah baya atau masih muda.”
Melihat raut wajah putrinya
yang berubah muram, lekas-lekas ibu menyendokkan gangan ke piring saya seraya
berujar, “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Mari kita makan.”
***
Selepas Subuh saya berniat
pamit pulang pada Ibu. Libur telah usai dan saya harus kembali ke rumah sakit
segera. Satu kali ketuk, ibu tidak menyahut. Juga ketukan-ketukan berikutnya.
Mungkin ibu tertidur selepas berzikir pikir saya.
Namun, perkiraan saya meleset
saat mendapati ibu lunglai menyandar di pintu lemari. Tubuhnya masih terbalut
mukena dengan tasbih di tangan. Lekas-lekas saya raba pergelangan tangan dan
lehernya. Nihil, ibu telah tiada sebelum saya sempat berpamitan padanya.
Suami dan anak-anak saya
menyusul pagi harinya. Pengeras suara di masjid lantang mengabarkan kepergian
ibu pada orang-orang. Sanak saudara dan handai taulan kami berdatangan. Proses
pemakaman dipersiapkan. Tidak terkecuali sajian pada prosesi turun tanah; hari
pertama kematian dimulai sejak jenazah turun dari rumah dan dibawa menuju liang
lahat.
“Kau yakin tidak mau pesan
jamuan dari katering saja?” Suami saya memandang ragu.
Saya melepas napas. “Saya
hanya mau Ibu bahagia karena putrinya bisa memasak. Walaupun cuma satu, itu
juga sajian untuk kematiannya.”
Miranda Seftiana, lahir di Hulu Sungai Selatan, 16 September
1996. Menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran ULM. Buku terbarunya Stadium
Rindu (2018) dan Jendela Seribu Sungai (2018) yang ditulis bersama Avesina
Soebli. Cerpennya terhimpun dalam buku kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2015 dan
2017
MAAF SAYA SEKALIAN
MENCANTUMKAN CERPEN
AGAR PEMBACA BISA
SEKALIGUS MENELAAH TULISAN SAYA
(TERIMA KASIH UNTUK YANG
TELAH MAMPIR DI BLOG SAYA)